Minggu, 23 Desember 2012

Jane dan Janer

Jane adalah seorang anak baru. Ia baru pindah sekolah sekitar 3 bulan yang lalu. Dalam waktu yang sesingkat itu, Jane mulai menyukai teman lawan jenisnya, Janer. Janer adalah teman Jane. Hanya saja, mereka tidak disatukan dalam satu kelas. Jane berada di kelas 9c, sedangkan  Janer di kelas 9b. Jane sendiri bingung kenapa ia menyukai Janer. Bertatap muka langsung saja tidak pernah. Apalagi mengobrol, rasanya amat jarang.
 Jane mulai menyukai Janer, saat Janer selalu ada untuknya. Disaat Jane melakukan perjalanan jauh, Janer lah yang menemaninya dan selalu bertanya, “Lo udah sampe mana?” atau “Lo udah sampe?” Bahkan Janer mau menemani Jane begadang. Janer selalu bertanya pada Jane, “Mau begadang? Kalo iya, nanti gue minum kopi.” Jane sangat terkesan dengan perkataan Janer, tadi. Karena itulah, Jane merasa sangat nyaman dengan Janer yang selalu menemaninya.

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥

Suatu saat, Jane merasakan beban yang sangat berat dalam benaknya. Saat di sekolah, hujan pun turun. Ia ingin sekali menangis dibawahnya dan meluapkan semua yang sedang ia rasakan. Dia selalu senang saat hujan turun, karna ia bisa menangis dibawahnya tanpa ada satu orang pun yang tau. Hal itulah yang  bisa membuatnya tenang.
Keinginan Jane pun terwujud. Ketika itu ia sedang pelajaran olahraga, ia langsung berlari ke lapangan dan terguyur derasnya hujan pada hari itu. Teman-teman yang melihatnya pun tekejut dan berteriak kepada Jane, agar menghentikan tindakan bodohnya itu. Tetapi, Jane tidak menggubris teriakan teman-temannya itu dan tetap berdiri bagaikan orang bodoh di bawah derasnya hujan. Sang guru olahragapun tidak bisa berbuatnya banyak karna mengetahui sifat Jane yang sangat keras kepala.
Semua orang melihat kejadian itu, termasuk guru, dan juga Janer. Tetapi ia tidak menyadari bahwa orang itu adalah Jane. Hingga salah satu dari sahabat Janer, meberitahukan kepadanya, bahwa orang itu adalah Jane. Saat mengetahui orang itu adalah Jane, Janer berteriak “Janeeeee! Berhenti!” sambil berlari menerobos derasnya hujan dan menghampiri Jane.
Saat Jane melihat Janer menghampirinya, dia hanya bisa diam tanpa berkata apapun. Mereka berdua sudah saling berhadapan, dan Janer pun berkata, “Ngapain lo disini? Udah, ayo! Ini hujannya lagi deres banget. Nanti lo sakit Jane,” sambil menarik tangan Jane. Namun, Jane menolak. “Gue gak mau Janer, biarin gue disini. Cuma dibawah hujan gue bisa ngeluapin semua emosi gue. Semua beban yang ada di benak gue. Gue bisa nangis disini tanpa ada satu orang pun yang tau termasuk lo.” Sambil melepaskan genggaman Janer.
“Bukan gini cara lo ngeluapin semua emosi lo. Lo bisa cerita ke gue. Jangan kayak gini! Gue gak suka!” bentak Janer.
 Jane pun melemah dan berkata “Gue gak bisa Janer. Gue lemah. Gue gak kuat kalo harus nyeratin semua yang gue rasain. Lagian juga apa peduli lo sama gue? Gue bukan siapa-siapa lo. Buat apa lo peduli sm gue? Ha? Buat apa?!” Emosi Jane tak terkendali.
Janer pun terdiam. Terdiam beberapa menit dan akhirnya membuka suara “Ya…gue sebagai temen lo, gue gak mau lo kaya gini Jane.
Jane membentak, “Temen gue yang lain gak segitunya peduli sm gue!”
 Janer pun tersentak, “Oke, kalo lo gak mau ikut gue dan gak mau gue perhatian sm lo. Fine, gue tinggal lo sekarang!” sambil meninggalkan Jane.
Sambil melihat kepergian Janer, Jane pun terdiam dan kemudian menangis. Sampai akhirnya, ia pun tumbang dibawah derasnya hujan, tanpa Janer ketahui. Kejadian itu dilihat oleh banyak orang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Namun, hanya Riki yang berani membuka suara “JANER, JANE PINGSAN! LIHAT DI BELAKANG LO!” teriak Riki.
Setelah mendengar itu, Janer membalikkan badannya dan melihat Jane sudah tergeletak tak berdaya di tengah lapangan. Janer langsung berlari sambil berteriak, “JANEEEEEEE!!!”
Seketika Janer sudah berada di samping Jane. Janer pun berteriak “JANE, LO KENAPA? JANEEE! SADAR! JANEEEE!” sambil meletakkan kepala Jane di pangkuannya. “Gue sayang sama lo, Janer, ucap Jane lirih. Janer yang mendengar pengakuan itu pun tersentak. Janer terdiam. Beberapa lama kemudian, ia pun berkata, “Gue juga sayang sama lo, Jane.
Jane yang mendengarnya pun terkejut. “Gue sayang sama lo, dari awal kita berhubungan di bbm. Lo satu-satunya cewek yang bisa ngertiin gue dan selalu perhatian ke gue,” lanjut Janer.
“Gue juga, Ner.
Teman-teman Jane dan Janer yang melihat dari kejauhan bingung dengan apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua. Mereka baru tersadar apa yang sedang terjadi disana, setelah melihat Janer memeluk Jane dipangkuannya. Yeah, mereka telah mengetahui perasaan satu sama lain.
Seketika Janer tersadar, Jane tidak sadarkan diri. Janer langsung menggedong Jane dan membawanya ke koridor. Teman-teman yang melihat itu langsung mendatangi mereka. Janer menggoyang-goyangkan tubuh Jane, agar ia segera sadar. Tetapi, hasilnya nihil. Jane tetap tidak sadarkan diri. Janer sangat khawatir dengan  keadaan Jane. Kemudian, Pak Rino, guru olahraga mereka, menyarankan agar Jane segara dibawa ke RS.
Setibanya di rumah sakit, Jane langsung dibawa ke ruang UGD. Janer, Pak Rino, Riki, dan Bilqis, menunggu dalam keresahan. Terutama Janer. Dia yang paling tidak tenang. Pak Rino yang sedari tadi berusaha menenangkan Janer pun tidak berhasil membuat Janer tenang. Dia tetap saja gelisah.
Setelah melihat dokter keluar dari ruang UGD, Janer langsung berlari menghampiri dokter dan berkata, “Bagaimana keadaan Jane, Dok? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak apa-apakan, Dok?” Pak Rino, Riki dan Bilqis yang melihat perilaku Janer tersebut, berusaha memaklumi. Kemudian, dokter mengatakan, “Dia tidak ada-apa. Dia cuma butuh banyak istirahat.” Saat itu juga, perasaan Janer menjadi tenang.
Ketika sadar, Jane sudah berada di ruang perawatan, dan melihat Janer tertidur dalam keadaan duduk di sampingnya. Jane yang melihat itu merasa sangat terharu. Jane membangunkan Janer. Janer pun terbangun.
“Jane, lo udah sadar. Lo gak kenapa-napa kan?”
“Gue gak kenapa-napa, Ner. Tenang aja,” jawab Jane.
Seketika ruangan senyap. Mereka bingung harus berkata apa. Kemudian, Janer memulai percakapan.
“Lo sih pake ujan-ujanan segala. Ginikan jadinya. Ih!” seru Janer.
“Iya maaf-maaf. Gak akan gue ulangi lagi deh,” jawab Jane lirih.
“Lo gak pulang? Baju lo basah gitu. Nanti lo sakit juga, Ner,” lanjut Jane.
“Udah gue gak papa. Gak usah mikirin gue. Yang penting lo dulu sehat. Gue gak mau liat orang yang gue sayang sakit.” Ucap Janer.
Jane tersentak. Ia bingung harus menjawab apa.
“Kenapa?” Janer memecah kesunyian.
“Gue juga gak mau liat orang yang gue sayang sakit.” Jane pun mengakui.
Di rumah sakit itu, Jane dan Janer meluapkan tentang semua yang mereka rasakan satu sama lain. Melanjutkan percakapan yang terhenti saat di bawah hujan, tadi. Bagaimana perasaan mereka saat salah satu dari mereka menghilang, marah, bahagia, dan lain-lain.
Pada saat itu, Janer mengatakan sesuatu yang tidak Jane duga sebelumnya.
“Jane, gue mau ngomong.”
“Yaudah ngomong aja, kali.”
“Hm……,Janer masih ragu.
“Apasih, Ner? Ah lo mah gitu.
“Kamu… Kamu mau gak jadi pacar aku?” ungkap Janer.
Jane terdiam seketika. Dan Janer menyadari keterdiaman Jane itu dan langsung mengatakan, “Ehh tapi kalo lo gak…” belum sempat Janer menyelesaikan ucapannya, Jane memotong dan berkata, “Iya, aku mau. Janer yang mendengar itu merasa sangat bahagia, dan langsung memeluk Jane. Jane un membalas pelukan Janer.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Jane kembali masuk sekolah. Dengan penuh semangat, ia berjalan menyusuri halaman sekolahnya. Disambut dengan senyuman hangat dari sahabat dan teman-temannya, Jane segera menyadari, bahwa telah ada seseorang yang  menunggunya di ujung koridor sana. Yeah, orang itu adalah Janer. Seseorang yang kini sangat berarti dalam hidup Jane.

                                                           SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar