Jane adalah seorang anak baru. Ia baru
pindah sekolah sekitar 3 bulan yang lalu. Dalam waktu yang sesingkat itu, Jane
mulai menyukai teman lawan jenisnya, Janer. Janer adalah teman Jane. Hanya saja, mereka tidak disatukan dalam satu
kelas. Jane berada di kelas
9c, sedangkan Janer di kelas 9b. Jane sendiri bingung kenapa ia menyukai
Janer. Bertatap muka langsung saja tidak pernah. Apalagi mengobrol, rasanya amat
jarang.
Jane mulai menyukai Janer, saat Janer selalu ada untuknya. Disaat Jane
melakukan perjalanan jauh, Janer lah
yang menemaninya dan selalu bertanya,
“Lo udah sampe mana?” atau “Lo udah sampe?” Bahkan Janer mau menemani Jane
begadang. Janer selalu
bertanya pada Jane, “Mau begadang? Kalo iya, nanti gue
minum kopi.” Jane sangat terkesan dengan perkataan Janer, tadi. Karena itulah, Jane merasa sangat nyaman dengan
Janer yang selalu
menemaninya.
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
Suatu saat, Jane
merasakan beban yang sangat berat dalam benaknya. Saat di sekolah, hujan pun turun. Ia ingin sekali menangis dibawahnya
dan meluapkan semua yang sedang ia rasakan. Dia selalu senang saat hujan turun,
karna ia bisa menangis dibawahnya tanpa ada satu orang pun yang tau. Hal itulah yang bisa membuatnya tenang.
Keinginan Jane pun terwujud. Ketika itu ia sedang
pelajaran olahraga, ia langsung berlari ke lapangan dan terguyur derasnya hujan
pada hari itu. Teman-teman yang melihatnya pun
tekejut dan berteriak kepada Jane, agar menghentikan tindakan
bodohnya itu. Tetapi, Jane tidak menggubris teriakan teman-temannya itu dan
tetap berdiri bagaikan orang bodoh di bawah derasnya hujan. Sang guru
olahragapun tidak bisa berbuatnya banyak karna mengetahui sifat Jane yang
sangat keras kepala.
Semua orang melihat
kejadian itu, termasuk guru, dan juga Janer. Tetapi ia tidak menyadari bahwa orang
itu adalah Jane. Hingga salah satu dari sahabat Janer, meberitahukan kepadanya, bahwa orang itu
adalah Jane. Saat mengetahui orang itu adalah Jane, Janer berteriak “Janeeeee!
Berhenti!” sambil berlari menerobos derasnya hujan dan menghampiri Jane.
Saat Jane melihat
Janer menghampirinya, dia hanya bisa diam tanpa berkata apapun. Mereka berdua
sudah saling berhadapan, dan Janer pun
berkata,
“Ngapain lo disini? Udah,
ayo! Ini hujannya lagi deres banget. Nanti lo sakit Jane,” sambil menarik tangan Jane.
Namun,
Jane menolak.
“Gue gak mau Janer, biarin gue disini. Cuma dibawah hujan gue bisa ngeluapin
semua emosi gue. Semua beban yang ada di benak gue. Gue bisa nangis disini
tanpa ada satu orang pun
yang tau termasuk lo.” Sambil melepaskan genggaman Janer.
“Bukan gini cara
lo ngeluapin semua emosi lo. Lo bisa cerita ke gue. Jangan kayak gini! Gue gak suka!”
bentak Janer.
Jane pun melemah dan berkata “Gue gak bisa
Janer. Gue lemah. Gue gak kuat kalo harus nyeratin semua yang gue rasain. Lagian juga apa peduli lo sama gue?
Gue bukan siapa-siapa lo. Buat apa lo peduli sm gue? Ha? Buat apa?!” Emosi Jane
tak terkendali.
Janer pun terdiam. Terdiam beberapa menit
dan akhirnya membuka suara “Ya…gue sebagai temen lo, gue gak mau lo kaya gini
Jane.”
Jane membentak, “Temen gue yang lain gak segitunya
peduli sm gue!”
Janer pun tersentak, “Oke, kalo lo gak mau ikut gue dan gak mau gue perhatian sm lo. Fine, gue tinggal lo sekarang!” sambil meninggalkan Jane.
Janer pun tersentak, “Oke, kalo lo gak mau ikut gue dan gak mau gue perhatian sm lo. Fine, gue tinggal lo sekarang!” sambil meninggalkan Jane.
Sambil melihat
kepergian Janer, Jane pun
terdiam dan kemudian menangis. Sampai akhirnya, ia pun tumbang dibawah derasnya hujan,
tanpa Janer ketahui. Kejadian itu dilihat oleh banyak orang yang sedari tadi
memperhatikan mereka berdua. Namun, hanya Riki yang berani membuka suara “JANER,
JANE PINGSAN! LIHAT DI BELAKANG LO!” teriak Riki.
Setelah mendengar
itu, Janer membalikkan badannya dan melihat Jane sudah tergeletak tak berdaya di tengah lapangan. Janer langsung
berlari sambil berteriak,
“JANEEEEEEE!!!”
Seketika Janer sudah berada di samping
Jane. Janer pun
berteriak “JANE, LO KENAPA? JANEEE! SADAR! JANEEEE!” sambil meletakkan kepala
Jane di pangkuannya. “Gue sayang sama lo, Janer,” ucap Jane lirih. Janer yang
mendengar pengakuan itu pun
tersentak. Janer terdiam. Beberapa lama kemudian, ia pun
berkata,
“Gue juga sayang sama lo, Jane.”
Jane yang
mendengarnya pun terkejut. “Gue sayang sama lo, dari awal kita berhubungan di bbm.
Lo satu-satunya cewek yang bisa ngertiin gue dan selalu perhatian ke gue,” lanjut Janer.
“Gue juga, Ner.”
“Gue juga, Ner.”
Teman-teman Jane
dan Janer yang melihat dari kejauhan bingung dengan apa yang sedang terjadi
diantara mereka berdua. Mereka baru tersadar apa yang sedang terjadi disana, setelah melihat Janer memeluk Jane
dipangkuannya. Yeah, mereka telah mengetahui perasaan satu sama lain.
Seketika Janer
tersadar, Jane tidak sadarkan diri. Janer langsung menggedong Jane dan
membawanya ke koridor. Teman-teman yang melihat itu langsung mendatangi mereka.
Janer menggoyang-goyangkan tubuh Jane,
agar ia segera sadar. Tetapi,
hasilnya nihil.
Jane tetap tidak sadarkan diri. Janer sangat khawatir dengan keadaan Jane. Kemudian, Pak Rino, guru olahraga mereka, menyarankan
agar Jane segara dibawa ke RS.
Setibanya di rumah
sakit, Jane langsung dibawa ke ruang UGD. Janer,
Pak Rino, Riki, dan Bilqis,
menunggu dalam keresahan. Terutama
Janer. Dia yang paling tidak tenang. Pak Rino yang sedari tadi berusaha
menenangkan Janer pun tidak berhasil membuat Janer tenang. Dia tetap saja
gelisah.
Setelah melihat
dokter keluar dari ruang UGD, Janer langsung berlari menghampiri dokter dan
berkata,
“Bagaimana keadaan Jane, Dok? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak apa-apakan,
Dok?” Pak Rino, Riki dan Bilqis yang melihat perilaku Janer tersebut, berusaha
memaklumi. Kemudian,
dokter mengatakan,
“Dia tidak ada-apa. Dia cuma butuh banyak istirahat.” Saat itu juga, perasaan Janer menjadi tenang.
Ketika sadar, Jane
sudah berada di ruang perawatan,
dan melihat Janer tertidur dalam keadaan duduk di sampingnya. Jane yang melihat
itu merasa sangat terharu. Jane membangunkan Janer. Janer pun terbangun.
“Jane, lo udah
sadar. Lo gak kenapa-napa kan?”
“Gue gak
kenapa-napa, Ner. Tenang aja,”
jawab Jane.
Seketika ruangan senyap. Mereka bingung harus
berkata apa. Kemudian,
Janer memulai percakapan.
“Lo sih pake
ujan-ujanan segala. Ginikan jadinya. Ih!” seru Janer.
“Iya maaf-maaf.
Gak akan gue ulangi lagi deh,”
jawab Jane lirih.
“Lo gak pulang?
Baju lo basah gitu. Nanti lo sakit juga, Ner,” lanjut Jane.
“Udah gue gak
papa. Gak usah mikirin gue. Yang penting lo dulu sehat. Gue gak mau liat orang
yang gue sayang sakit.” Ucap Janer.
Jane tersentak. Ia
bingung harus menjawab apa.
“Kenapa?” Janer memecah kesunyian.
“Gue juga gak mau
liat orang yang gue sayang sakit.”
Jane pun mengakui.
Di rumah sakit
itu, Jane dan Janer meluapkan tentang semua yang mereka rasakan satu sama lain.
Melanjutkan percakapan yang terhenti saat di bawah hujan, tadi. Bagaimana perasaan mereka saat salah satu
dari mereka menghilang, marah, bahagia, dan lain-lain.
Pada saat itu,
Janer mengatakan sesuatu yang tidak Jane duga sebelumnya.
“Jane, gue mau
ngomong.”
“Yaudah ngomong
aja, kali.”
“Hm……,” Janer masih ragu.
“Apasih, Ner? Ah
lo mah gitu.”
“Kamu… Kamu mau gak jadi pacar aku?”
ungkap Janer.
Jane terdiam
seketika. Dan Janer menyadari keterdiaman Jane itu dan langsung mengatakan, “Ehh tapi kalo lo gak…” belum
sempat Janer menyelesaikan ucapannya, Jane memotong dan berkata, “Iya, aku mau.” Janer yang mendengar itu merasa
sangat bahagia, dan
langsung memeluk Jane. Jane un
membalas pelukan Janer.
Setelah beberapa hari
dirawat di rumah sakit, akhirnya Jane kembali masuk sekolah. Dengan penuh semangat, ia berjalan menyusuri
halaman sekolahnya. Disambut dengan senyuman hangat dari sahabat dan
teman-temannya, Jane segera menyadari, bahwa telah ada seseorang yang menunggunya di ujung koridor sana. Yeah, orang itu adalah Janer. Seseorang yang kini
sangat berarti dalam hidup Jane.
SELESAI









