Kamis, 19 Januari 2012

Fight For Love


Hai, aku Aryana Nabilla Indahpermata but just call me Arya, OK.?! Aku sekarang duduk di kelas 2 SMA Budi Utomo Jakarta. Sebenarnya aku hanyalah anak biasa jika ayahku bukan seorang pejabat tinggi, karena hal itu guru-guru di sekolah salalu memperlakukankua dengan special.
Hari ini ada guru baru yang datang. Banyak yang bilang kalau guru yang satu ini lulusan dari sarjana di Amerika Latin, tapi menurutku pasti orangnya biasa-biasa aja. Toh biasanya kan gitu.
“Woy… yakin lo ga bakal tertarik sama guru yang satu ini.? Cakep loh… rada mirip gue. Gue aja ganteng gini apa lagi tu guru.” Excell, musuh abadi sekaligus teman sebangkuku mulai memanas-manasiku lagi.
Perlu kuakui prestasinya lebih unggul daripada prestasiku. Tapi cowok yatim piatu kelahiran Amerika Latin yang wajahnya agak mirip sama Justin Bieber yang punya nama lengkap Excell Blaze Vanniero Harun ini sering kali bikin aku naik darah. Biarpun dia menduduki peringkat satu rangking kelas dan urutan pertama dalam daftar cowok keren di sekolah (Ngalahin kak Richi dan kak Adhi) menurutku itu hal yang wajar. Secara dia keturunan Amerika Latin, mana mungkin ga pintar.
“Udah deh. Gue lagi ga mau berantem sama lo. Masih pagi.” Sambarku kesal sekaligus dongkol.
“Yaah… Ga bisa diajak bercanda nih… ga seru ah… mending sama Lena deh kalo gitu…” kata Excell sambil pindah ke tempat Alvin, tepatnya disebelah Lena.
Bel tanda berbaris akhirnya berbunyi. Aku dan teman-teman yang lainnya segera menuju lapangan untuk mengatur barisan. Berita tentang guru baru itu Ternyata memang benar. Kepala sekolah berdiri disamping seorang laki-laki bertubuh atletis yang sangat… sebut aja, ganteng.
“Baiklah anak-anak. Hari ini kita kedatangan guru baru, namanya pak Rhyno Stevanno Adipurnama Harun. Dia ini lulusan dari Universitas Negeri di Amerika Latin. Mulai hari ini dia akan menjadi guru dimata pelajaran olahraga.”
WHAT.?! Guru olahraga.?! Berarti jam pertama nanti dia akan langsung mengejar kami sekelas.? Yeah…!! Beruntung…!! Tunggu, kok nama belakangnya ‘Harun’ ya, sama kayak nama belakang Excell . Alah, tapi emang gue pikiran…??? Masa bodo’ mau sama apa kagak. Iyo to.?!
Bel tanda barisan dibubarkan membuyarkan khayalanku tentang pelajaran olahraga yang akan kami lalui nanti. Mungkin pelajaran olahraga yang biasanya melelahkan akan berlalu tanpa terasa.
Aku dan Rizka segera mengganti pakaian di toilet. Biasanya kami ngobrol sebentar sebelum pergi ke lapangan. Tapi entah kenapa aku malah ingin cepat-cepat kelapangan untuk bertemu dengan pak Rhyno.
Sialnya, dalam perjalanan ke lapangan aku berpas-pasan dengan Excell yang langsung menghujaniku dengan sejuta sindiran.
“Gimana.? Cakep kan kayak gue.? Elo sih, dibilangin gak percaya. Makanya jadi orang jangan sering nggak percaya sama perkataan orang lain.” Kata Excell memulai ‘perang’.
“Hah.?! Yang cakep cuma gurunya. Elo mah ga ada apa-apanya. Kalau dijadiin kiasan nih, jadi Handsome and The Beast. Si handsomenya Pak Rhyno, si Beast alias si buruk rupanya elo.!!!! Kalo itu gue 100% setuju.” Tukasku sambil mencubit pinggang Excell sekuat mungkin biar dia kapok ngerjain aku terus.
“Aw... sakit nih… aaawww…” Excell menjerit sambil berusaha melepaskan tanganku dari pinggangnya. Tapi aku malah tambah kuat mencubitnya.
“AAAAWWWWW,…..!!!!!!!!” Excell berteriak kuat karena aku mencubitnya terlalu kuat.
Aku berlari agar Excell tidak membalas perbuatanku. Dia mengejarku dari belakang, saat tangannya menyentuh pundakku aku tergelincir oleh genangan air di tangga. Saat itu ada pak Rhyno dan pak Ronal (Perwalian kelas kami) yang akan menaiki tangga.
Pak Rhyno menahan tubuhku agar tidak jatuh, sedangkan Pak Ronal menatap Excell yang kelihatan shock. Pak Ronal mengira dia mendorongku agar jatuh dari tangga karena terakhir dia megang bahuku. Biarin aja, toh sekali-sekali di hukum guru. Ya kan.?
Pak Ronal menyeret Excell dengan kasar kedalam kantornya. Aku merasakan akan ada hal buruk yang akan terjadi. Aku cepat-cepat mengucapkan Terima kasih pada pak Rhyno dan menyusul pak Ronal dan Excell.
Aku mengintip dari bawah jendela. Didalam kantor, pak Ronal memarahi Excell habis-habisan. Aku merasa tidak enak pada Excell. Bagaimanapun juga aku jatuh karena kecerobohanku sendiri dan bukan karena dia.
Pak Ronal memang terkenal sadis kalau memberi hukuman. Belum lagi dia juga tidak menyukai Excell tanpa alasan. Padahal yang sering memberikan penghargaan untuk kelas kami hanya Excell.
Tiba-tiba pak Ronal memukul kaki Excell dengan sebatang kayu besar yang aku jamin sekali pukul langsung terkilir. Excell mundur beberapa langkah kebelakang. Matanya berair, kelihatan sekali kalau dia hanya sebisa mungkin menahan diri agar tidak menangis atau mengerang kesakitan, ingin sekali aku berteriak pada Pak Ronal bahwa kaki yang dipukulnya adalah kaki seorang pemain basket professional yang sudah membawa nama sekolah kami sampai ke Korea, Jepang, dan China.
Excell keluar dari kantor Pak Ronal, aku segera bersembunyi agar tidak ketahuan. Aku memperhatikannya dari kejauhan dengan rasa bersalah, apalagi sekarang cara berjalannya terlihat agak sedikit pincang karena hantaman kayu yang diberikan oleh Pak Ronal tadi.
Aku mengikutinya sampai ke UKS sekolah. Didalam dia memerban kakinya yang dipukul oleh pak Ronal dengan perban yang sudah tersedia. Aku melihat setitik air mata meleh dari sudut matanya. Aku tidak percaya, selama aku mengenalnya aku belum pernah melihatnya menangis.
Aku kembali ke lapangan dengan lesu. Mungkin pelajaran olahraga tidak akan seru jika Excell tidak ikut. Aku berharap agar dia bisa ikut olahraga bersama.
Beberapa menit kemudian Excell datang dengan langkah yang masih terlihat pincang. Di kaki sebelah kanannya terlihat perban putih yang membelitnya. Dia sempat melihatku, tapi dia cepat-cepat memalingkan wajahnya. Aku takut dia marah padaku, selama ini dialah yang mengajariku banyak hal yang tidak ku mengerti.
Kami mulai berolahraga dengan materi pertengahan yaitu tentang renang. Kami sekelas diajak oleh Pak Rhyno ke kolam renang yang dekat dari sekolah. Karena sudah di pesan oleh pak Ronal saat Minggu lalu, jadi kami sudah mempersiapkan semuanya.
Saat akan menyebrangi jalan aku melirik kearah Excell, tidak ada yang membantunya saat akan menyebrangi jalan. Aku ingin membantunya, tapi aku takut. Sebagai gantinya aku menyuruh Dion untuk membantunya.
Sesampainya di kolam kami segera menceburkan diri ke dalam kolam tanpa menghiraukan perintah Pak Rhyno. Pipiku merona merah begitu melihat bodi six-packs­­­­-nya Pak Rhyno.
“Woy, Ya.?! Nghayalin apa lu…??? Kok keliatannya asik banget deh…” Sisiel menepuk pundakku dari belakang. “Ngomong-ngomong, kok Kayaknya lo sama si Excell dari awal pelajaran sampe s’karang lo berdua diem-dieman. Pundung ya.?” Tanya Sisiel ingin tahu.
“Nggak. Cuma…” aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Sisiel. Mungkin dia bisa sedikit membantuku.
“Ooohhhh…. Gitu…t’rus, kenapa lo ga minta maaf langsung aja ma dia.? Yaaah, dia kan orangnya paling gampang maafin orang.” Ujar Sisiel.
“Iya, tapi gue ngerasa ga enak aja. Secara gara-gara gue dia kena pukul pake kayu besar sama Pak Ronal. Dan sekarang tuh liat, kakinya jadi terkilir. Padahal itu kaki punya pemain basket professional  yang udah ngebawa nama sekolah kita ke berbagai daerah.”
“kalo gitu, gue bisa bantu biar lo cepet baikan ma Excell.” Kata Sisiel dengan senyumnya yang sangat khas.
“Yang bener nih…??? Aduuh… Siel, thank’s banget ya… lo emang sahabat gue yang paling bae…” aku memeluk Sisiel.
“Iya, iya… skarang gue mau bicara sama Excell dulu.” Kata Sisiel sambil melepas rangkulan tanganku di pundaknya.
aku berjalan diseputar kolam renang untuk melihat-lihat keadaan. Tapi karena kecerobohanku aku terpeleset oleh air yang ada di pinggiran kolam. Untung ada pak Rhyno yang dengan sigap menahanku agar tidak jatuh ke kolam.
“Lain kali hati-hati. Ini sudah yang kedua kalinya.” Kata Pak Rhyno sambil tersenyum ramah. OMG gantengnya itu loooohhhhh,…..
“I, iya pak. Makasih.” Jawabku tanpa beralih dari wajahnya yang bagaikan dewa dari kahyangan.
“Ehm.!”
Dehaman yang khas dan familiar hinggap sesaat ditelingaku. Itu… Excell…!!!
“ada yang lagi mesra-mesraan sama guru nih…” Katanya sambil menahan tawa. Kelihatan sekali kalau dia punya rencana gila.
“WOOOOOYYYY….!!!!!! ADA PEMANDANGAN LANGKA NIIIHH…!!!! RUGI KALAU GA LIAT….!!! BURUAN….!!!!!” Tanpa kusadari dia berteriak kencang.
“Ooohh….!!! Mau balas dendam ya…???!!! Jangan pake cara gitu dong…. Kalo berani, sini, adepin gue pake cara jantan.” Tukasku sambil menarik kerah bajunya yang sempat kuraih sebelum dia kabur lagi.
“yah, bisa dibilang gitu. Gue mau balas dendam karena gue dapet hukuman yang ga tepat dari Mr. Gondoruwo.” Jawab Excell tak mau kalah.
“Excell.” Pak rhino memandang Excell dengan tajam. Aku tau arti dari tatapan itu adalah ‘jangan mcam-macam!’. Soalnya aku sering menggunakannya untuk mengancam Excell.
“Hehe… Ampun pak…”

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥

Ting….tong….
Seseorang memencet bel rumahku. Aku segera membuka pintu agar orang itu bisa cepat-cepat pergi dari sini SECEPATNYA.!
Aku sempat terpaku sesaat saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahku. Pak Rhyno…!!!
“Maaf, pak guru mau ngapain ya.?” Tanyaku dengan hati-hati karena sekarang aku sedang sendirian di rumah.
“Cuma mau minta tolong kok.” Jawab pak Rhyno santai.
“Lho.? Minta tolong apaan ya pak.?” Tanyaku lagi.
“Kamu bisa nggak, temenin pak guru jalan-jalan bentar.?” Kata pak guru santai. “Soalnya, Cuma kamu yang akrab sama pak guru. Yang lainnya belum terlalu akrab.” Ujar pak guru agar aku tidak heran.
“Ooh… boleh kok pak. Tapi, saya ganti baju dulu ya. Pak guru masuk aja dulu.” Aku mempersilahkan pah Rhyno masuk ke dalam rumah lalu segera masuk kedalam kamar.
“Yeeeeesssss….!!!! Yuhuuuuuu….!!! Akhiiirnyaaaa…. Kesampean juga….!!! Yuuhuuuu….. Ngedate sama pak rhyno” Aku bersorak penuh kemenangan begitu aku mengunci pintu kamar.
Aku segera membongkar tumpukan baju-baju milikku diatas tempat tidur. Aku ingin terlihat perfect dimata Pak Rhyno, makanya aku mengenakan pakaian terbaikku.
Mini dress warna putih yang kupakai saat ulang tahun Kak Richi beberapa bulan yang lalu ini mendapat nilai perfect dari semua teman-temanku, Bahkan kak Richi dan Excell pun beranggapan sama (‘kayak tuan putri di tangah pesta’).
Setelah selesai berdandan, aku segera keluar dari kamar. Pak Rhyno memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Udah siap.? Ayo.” Ajak pak Rhyno.
Aku mengangguk lalu mengikutinya keluar rumah. Di depan rumah terparkir motor birunya yang mengkilat seperti baru.
Aku menyambar helm biruku yang terletak di rak di teras rumah lalu segera duduk di belakang pak Rhyno.
Pak Rhyno membawa motor ke restoran yang pernah aku datangi bersama kak Richi dan kak Adhi beberapa Minggu yang lalu.
Aku dan pak Rhyno masuk ke dalam restoran yang mewah itu. Banyak orang yang sedang makan bergumam iri sehingga aku merasa tidak enak. Setelah itu kami segera duduk ditempat yang sudah dipesan oleh Pak Rhyno.
Aku memesan steak dan jus alpukat, makan yang sering ditraktir Excell saat aku sedang sedih atau bad mood, Sementara pak Rhyno memesan bistik ayam dan jus jeruk.
Saat tengah makan, seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan mendekati meja tempat kami makan.
“Rhyno! Ngapain kamu di sini.? Siapa Cewek ini.?” Tanya gadis itu tanpa permisi lebih dulu.
“Yang siapa itu elu.! Kenapa  lo datang dan langsung marah-marah?” Tukasku karena jengkel karena dia tidak sopan.
“Oh. Mau tanya gue siapa.? Gue pacar Rhyno.” Jawab gadis itu sambil menekankan nada pada kata ‘pacar’. “Yang siapa tuh elo.!” Kata gadis itu sambil mendorongku dengan kuat.
“Elsa, udah.! Ini ga seperti yang kamu pikir. Aku dan Arya Cuma kebetulan aja ketemu di sini.” Kata Pak Rhyno berbohong. Aku tau dia berbohong demi kebaikanku.
“Ohh…. Kebetulan, atau memang sengaja ketemu.?!” Tanya gadis itu tidak percaya.
“Aku dan Arya nggak  sengaja ketemu.” Kata pak Rhyno tegas.
“Aku nggak percaya.” Tukas gadis itu. “Dan kamu Cewek ga tau diri, jangan berani lo deketin rhino sesentipun.!”
“Memangnya kenapa kalau gue deketin Pak Rhyno.?! Lo Cuma pacarnya doang dan bukan mamanya.” Kataku kesal.
Dengan geram, gadis itu melemparkan gelas yang berisi jus jeruk milik pak Rhyno yang terletak diatas meja kearahku. Aku menutupi mata siap menghadapi semuanya.
Bunyi gelas pecah terdengar jelas di telingaku. Tapi bukan di tubuhku melainkan seseorang yang ada di hadapanku yang melindungiku dari serangan gadis tadi. Justin Bieber.! Bukan, itu Excell. Bahu berdarah kena pecahan gelas.
“Cih, beraninya sama anak sekolahan.!” Geram Excell dengan nada yang agak menantang.
“Ni siapa lagi.?!” Geram gadis itu.
“ELSA CUKUP….!!!!” Tiba-tiba pak Rhyno berteriak marah entah karena kenapa. Mungkin dia marah karena pacarnya itu sudah membuat kami nggak nyaman.
“Ooh, jadi kamu lebih ngebelain Cewek ga tau diri ini daripada aku, pacar kamu gitu.?”
“Bukan itu masalahnya. Mereka ini anak didik aku.!” Kata pak Rhyno masih marah. “Excell, Arya, ayo ke rumah sakit.” Ajak pak Rhyno.
Aku dan Excell mengikuti pak Rhyno pergi ke rumah sakit yang ada di depan restoran. Begitu sampai di sana pak Rhyno segera mengantar Excell ke ruang periksa lalu menemaniku di ruang tunggu.
Selama menunggu kami hanya saling diam. Tak ada yang mau bicara walaupun hanya mengatakan ‘A’.
Beberapa menit kemudian Excell kembali sambil memegangi bahunya. Dari raut wajahnya kelihatan sekali kalau dia meringis di dalam ruang periksa. Lalu pak Rhyno segera membayar biaya periksa. Aku bingung, kenapa pak Rhyno perhatian banget sama Excel.? Tapi biarin aja, salah-salah Excell memang anak special  di sekolah. Jadi wajar kalau guru-guru pada panik kalau dia kenapa-napa. Secara Cuma Excell yang bisa pulang dari olimpiade matematika dengan membawa medali emas atau trofi. Jadi jangan heran.

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥


Aku membanting diri di atas spring bed ku yang ber sprei biru kehitaman, warna favoritku. Aku memandang sekaliling kamar. Dinding yang banyak ku pasangi poster Irfan Bachdim. Tiba-tiba handphoneku berbunyi.

      “Jgn lpa kerjain pr Matematika lu.! Bsok dilarang nyontek pr gw.! Ok.?!”

Aku meremas jariku dengan kesal. Tu anak mentang mentang pintar hobinya berlagak melulu…!!!

“Mr. Excell yg trhormt, sorry aj…!! Pr gw udah slesai dri kmaren2. lu jgn bsar kpala dlu...!!!”

“Ooh. Udh slesai y... syukur aj klo gtu. Oh y, bsok blg k p’Ronal gw mnta izin, ad urusn dkit.”

“Urusan pa’an.?”

“Ada deeh.. privat hehehe...”

“Ksih tau dlu bru gw mw blg klo lo ad urusan. Klo ga, y udh..”

“Ngancam y.? bkn cma lo doang kn yg bsa gw mntain tlng. Ad om gw jga.”

“Oh, gw bru tau klo lo pnya om. Siapa?”

“Lho.? Blom gw ksih tau ya,. Klo gtu nnti gw ksih tau langsung d skolh deh.”

“Yah, bkin pnasarn aj..”

“Udh dlu y,. gw mau istirahat.”

Aku menghadapi ke langit-langit kamarku, aku penasaran dengan apa yang di beritahu oleh Excell tadi. Urusan sepenting apa sampai dia bela-belain nggak masuk sekolah.? Aah, udah lah, yang penting nanti juga di kasih tau.

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥


Pagi hari yang cerah scerah hatiku yang sedangsangat cerah tanpa setitik awan yang menutupi hatiku ini. Karena 2 hal yaitu : 1. ga ada excell di sekolah. 2. ada pelajaran tambahan olahraga nanti pagi. Yiipi, gimana ga senang coba..??
Sesampainya di sekolah aku tidak pernah berhenti tersenyum. Aku sangat senang, dan aku berharap ini terjadi selamanya. Dimana hari-hariku terisi bersama dengan pak Rhyno dan tentu saja tanpa Excell.
“Eh guys, denger-denger nih… katanya Excell, dia tuh ngidap tumor otak stadium 4 loh… dan hari ini kata dia ga masuk karena Katanya dia pingsan dan belum sadar sampai sekarang.!” Kata Shella, si ratu gossip.
“Alaah… ratu gossip begitu di denger, ga usah di pikirin…” Timpalku cuek.
“Oh ya.?! Kita liat aja siapa yang bakal datang nganterin surat izinnya Excell.” Tantang Shella.
“Ogah ah.! Jangan pikir karna gue sering berantem sama dia gue mau ngejelek-jelekin dia ya.! Gue ga Terima kalo lo jelek-jelekin dia lagi.!” Ancamku agar Shella mau tutup mulut.
Aku menahan diri agar tidak menyumpal mulut Shella dengan tanah dari pot bunga didepan kelas. Tapi bukan itu yang aku pikirkan, yang kupikirkan adalah kata-kata yang dikatakan oleh Shella barusan. Aku yakin pasti itu bukan kalimat biasa, itu pasti ada artinya. Dan aku tau itu.!
“Permisi. Ini surat izin Excell.” Terdengar suara pak Rhyno dari depan pintu yang langsung mengalihkan perhatianku. “Aryana ada.?” Tanyanya yang tidak tau kalau aku ada di sini dari tadi.
Aku mengangkat tanganku agar pak Rhyno bisa melihatku. Lalu dia mendekatiku lalu membisikkan sesuatu.
“Saat pulang nanti, kamu jangan pulang dulu ya. Ada yang mau pak Guru kasih tau.” Bisik pak Guru. Aku mengangguk mengiyakan.

Sepulangnya dari sekolah aku menunggu pak Rhyno didepan gerbang sekolah. Beberapa saat kemudian pak Rhyno datang sambil menyodorkan helmnya kepadaku. Aku segera memakainya dan naik ke belakang pak Rhyno.
Pak Rhyno membawaku ke rumah sakit. Aku bertanya-tanya apa yang ingin diberitahu oleh pak Rhyno padaku. Tapi aku menahan diri.
Pak Rhyno mengajakku memasuki kamar nomor 98. aku sempat membaca nama pasien yang tertempel di pintu kamar. Excell Blaze Vanniero Harun. Ini lebih membuatku bingung. Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Shella tadi benar.? Aku tidak tahu, tapi firasatku mengatakan kalau itu ada artinya.
Aku memasuki kamar yang serba putih. Aku langsung melirik kearah tempat tidur. Seorang laki-laki yang begitu kukenali terbaring disana, dengan wajah yang penuh kedamaian dan ketenangan.
“Maaf kalau kamu terkejut, tapi, jangan ceritakan ini pada siapa-siapa.” Kata Pak Rhyno tiba-tiba.
“Maksud pak guru…??”
“Sebenarnya…” Pak Rhyno menarik nafas panjang. “Excell mengidap tumor otak stadium 4.” Ungkapnya berat. “Selama ini dia minta agar pak guru merahasiakannya dari kamu. Tapi pak guru tidak tahan kalau kamu ga tau apa-apa. Jadi, jangan kasih tau sama siapa-siapa.” Kata pak guru sambil menatap mataku dalam-dalam.
Gelas yang kupegang hampir terlepas dari tanganku dan hampir terlepas dari genggamanku. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak Rhyno barusan. Tidak mungkin Excell mengidap tumor otak. Selama ini dia salalu terlihat ceria seperti remaja pada umumnya.
“dokter bilang, sudah tidak ada harapan lagi. Kemungkinan presentase keberhasilan operasi hanya 19-28%. Jadi, waktunya hanya tinggal menghitung bulan saja.” Kata pak Guru. “maaf juga kalau udah ngebohongin kamu, sebenarnya pak guru itu omnya Excell yang ngerawat Excell selama ini.” Sambung pak Rhyno.
“Ga apa-apa kok pak. Saya nggak marah kok. Saya tau kalau pak guru bohong demi kebaikan saya dan Excell. Walaupun agak kecewa karena pak guru nggak cerita dari awal, saya ngerti kok. Saya juga nggak percaya kalau Excell ngidap tumor otak sampai stadium 4. menurut saya, waktunya terlalu cepat.” Aku berusaha memahami keadaan.
Pak rhyno mengangkat wajahnya dan menatapku. Lalu tersenyum.
“7 tahun yang lalu, tepatnya saat tumor mulai tumbuh di otaknya, Excell sempat mengalami gangguan jiwa yang membuatnya putus sekolah selama satu tahun.”
“Gangguan jiwa.?” Tanyaku.
“ya, tepatnya saat adik sepupu yang dia cintai, Sophia merenggang nyawa saat jatuh dari tangga.” Jawab pak Rhyno.
“Saat itu, dia terus menyalahkan dirinya. Dia bilang seandainya dia mencegah Sophia ikut bersama teman-temannya ke vila pasti hal itu tidak akan terjadi berulang-ulang kali. Karena tidak tahan dengan tingkah Excell yang selalu menyalahkan diri, ayah angkatnya menganggapnya gila dan mengirimnya ke RSJ sampai pak guru mengetahuinya setahun kemudian. Karena merasa bertanggung jawab, pak guru mengambil hak asuh Excell atas nama ayah kandungnya. Beberapa bulan setelahnya, Excell kembali seperti biasanya walaupun harus menjerit kesakitan tiap malam karena tumor di otaknya. Setiap hari dia terus menggambar sosok gadis yang sama tiap hari. Dia pernah bilang kalau nama gadis itu adalah Lyra yang merupakan pengganti sosok Sophia.”
Aku tidak sadar kalau aku menitikkan air mata saat mendengar cerita dari pak Rhyno. Ternyata, sosok Excell yang usil dan nakal bagiku Ternyata adalah orang yang penuh perjuangan. Aku bisa membayangkan bagaimana Excell menjerit tiap malam di kamarnya. Yang tidak bisa kubayangkan adalah bagaimana saat Excell dianggap gila dan dikirim ke RSJ.
“Beberapa hari ini dia selalu bilang kalau dia siap untuk di operasi walau hasilnya nihil. Dia bilang, hanya ada dua pilihan, tetap diam dan menunggu sampai tumor di otaknya membesar atau di operasi yang bisa membuatnya menyusul Sophia.” Sambung pak Rhyno.
“Pak Guru yang sabar ya,. Saya yakin kalau Excell pasti bisa sembuh.” Entah apa yang membuatku berani melakukan hal ini, tapi aku memeluk pak Rhyno tanpa takut ataupun malu.
Aku mengira kalau pak Rhyno akan marah, tapi Ternyata dia malah membalas pelukanku dengan hangat.

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥


Sudah sebulan Excell tidak masuk sekolah, dan aku akan pindah dari Jakarta ke Amerika jam 8 besok malam. Ada yang bilang kalau dia berhenti dari sekolah tapi aku tidak percaya.
Tiba-tiba  kak Adhi menghadangku.
“Arya, bisa bicara bentar.?” Tanya kak Adhi.
“Boleh kok, kak. Tapi mau bicara apa ya.?” Jawabku gugup. Tanpa kusadari kak Adhi menarik tanganku ke belakang sekolah yang sepi. Jantungku berdegup kencang, begini-begini kak Adhi belum pernah bersikap seperti ini padaku.
“Arya,” bisik kak Adhi sambil mendekatkan wajahnya kewajahku. Aku memundurkan kepalaku agar masih dalam jarak yang aman. “Jadilah pacarku.” Kata kak Adhi. Semula aku hanya menganggapnya bercanda, tapi melihat raut wajahnya yang menunjukkan keseriusan aku tambah gugup.
“Ma, maaf kak. bukannya Arya ga suka sama kakak. Tapi kan, bentar lagi Arya udah mau pindah ke Amerika, jadi…” Aku tidak melanjutkan kalimatku.
“Ga bisa.! Arya Cuma milik gue.!” Seruan kak Richi terdengar dari belakang kak Adhi. “Ga ada yang bisa ngerebut Arya dari gue. Termasuk lo.!” Kata kak Richi lantang.
“Emang lo siapanya Arya.?!” Bentak kak Adhi sambil mendorong bahu kak Richi dengan kasar.
“Kalo gue pacarnya, ada masalah.?” Jawab kak Richi santai.
“heh.! Gue nanyain yang serius. Jadi lo juga harus ngejawab yang bener.,! gue paling anti sama orang ga jelas kayak lo.!” Tukas kak Adhi tegas.
“Iya, gue serius kalau Arya…”
“STOP…!!!!!!!!!” aku berteriak agar kak richi dan kak Adhi berhenti bedebat. “Udah deh, kak Richi sama kak Adhi gak perlu berantem gara-gara pengen jadi pacarnya Arya. Semuanya ga ada gunanya. Beberapa Minggu lagi Arya mau pindah ke Amerika, jadi ga ada gunanya kak Richi sama Kak Adhi berantem soal Arya.!!!” Tukasku sambil menahan agar airmata tidak meleleh.
“Arya…”
“Nggak… Arya nggak mau denger apapun lagi…!!!!” Kataku sambil berlari ke dalam kelas.
Aku menyeka airmata yang membendung agar tidak jatuh saat bertemu seseorang. Tiba-tiba pak Rhyno datang.
“Arya, hari ini Excell operasi.!” Lapor pak Rhyno seolah aku ini komandannya. Aku sedikit kaget mendengar perkataan pak Rhyno barusan. “10 menit lagi di mulai.!” Sambungnya.
“10 menit lagi.? Ya udah, kalo gitu, kita kesana aja sekarang.” Ujarku spontan. “Saya bisa minta izin kok.” Sambungku.
Aku dan pak Rhyno segera pergi ke rumah sakit dengan menaiki motor milik pak Rhyno.
Setibanya di sana kami segera menuju ruang operasi tepat saat operasi di mulai. Selama operasi berjalan, tak henti-hentinya aku berdo’a agar operasinya lancar. Selama itu pula pak Rhyno terus menggenggam tanganku dengan erat.
3 jam kemudian dokter keluar dengan wajah penuh keringat. Aku dan pak rhyno segera mendekatinya.
“Se, selamat… operasinya berhasil.” Kata dokter. Tapi aku merasa ada yang aneh.
“Maaf dok.? Apa barusan.?” Tanyaku.
“Maaf. Kami hanya bisa berusaha.”

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥


Aku terus menangis di sekitar pusara putih sejak sejam yang lalu. Pak rhyno terus mengiburku.

Excell Blaze V. Harun
3 November 1994 – 28 desember 2010

“Sudahlah, relakan saja dia pergi. Mungkin ini memang sudah di tentukan oleh Tuhan. Do’akan saja agar dia bisa mendapat tempat yang layak.” Bisik pak Rhyno mencoba menghiburku.
“Tapi ini ga adil…” Jawabku sambil tetap menangis tersedu-sedu.
“Ini ada surat dari Excell buat kamu. Dia bilang kalau seandainya operasinya gagal, kamu harus segera membaca ini.” Pak Rhyno menyerahkan secarik kertas kepadaku
Untuk  Arya…
Maaf kalau udah bikin lo nangis. Tapi sebelum lo baca lebih lanjut lagi, jangan menangis.
Maaf kalau selama ini gue udah bohongin lo. Gue tau kalau pak Rhyno udah cerita semuanya ke lo. Tapi satu yang perlu lo ketahui, biarpun sosok nyata gue gak ada di sisi lo, tapi gue tetap danselamanya ada di sisi lo.
Sebenarnya gue ga suka sama diri gue karena sering bikin lo kesel dan ngecap gue sebagai musuh abadi lo. Tapi itu gue lakuin karena Terpaksa.
Gue yakin lo udah denger tentang Sophia dan Lyra dari pak Rhyno. Karena itu gue Terpaksa bikin lo benci sama gue. Wajah lo tuh mirip, mirip banget sama Sophia alias Lyra, saat itu ingatan tentang Sophia muncul dan aku nggak pengen itu terjadi, jadi aku bikin lo benci sama gue sampe mendarah daging.
Maaf kalau selama ini aku udah bikin banyak kesalahan ama lo. Tapi satu yang mau gue kasih tau. Jangan putus asa kalo lo memang ingin melakukan sesuatu karena gue tetap ada di samping lo sampai kapanpun.

Excell

Aku menangis lebih keras setelah membaca surat dari Excell itu. Bodoh.! Kenapa lo ga bilang langsung aja ma gue.?! Padahal gue pengen banget sahabatan ama lo, bukannya musuhan. Batinku dalam hati.
Beberapa menit kemudian mobil jemputanku datang. Hari ini aku akan pergi ke Amerika. Sebelum pergi , Pak Rhyno menahanku sebentar.
“Arya, Pak Guru tau kalau kamu pasti kaget. Tapi Pak Guru cinta sama kamu jadi…” Kata pak Guru. “Jadi jadilah pacar pak guru.” Sambungnya mantap.
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak Rhyno barusan. “Dengan senang hati.” Jawabku sambil memeluknya. Setelah itu aku masuk ke dalam mobil jemputanku dan pergi ke airpot. Handphoneku berbunyi.

“I love you, my princess.”

Aku tersenyum membaca SMS dari pak Rhyno.

“Love you too, my price.”

Kami sampai di bandara Soekarno-Hatta, lalu segera menaiki pesawat yang berangkat ke Amerika. Dengan hati berbunga-bunga, aku mengucapkan selamat tinggal pada tanah kelahiranku itu.

♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥


8tahun kemudian,di Amerika...
Aku berjalan di pertokoan untuk sekedar menyegarkan mata karena tugas kuliah membuatku tudak keluar kamar selama seminggu.
“Aryana Nabilla.” Suara seorang pria yang sangat kukenali menyebut namaku. “Hiduplah bersamaku.”
Aku berbalik untuk memastikan kalau aku tidak salah orang, saat itu juga kotak cincin berlapis beludru merah di sodorkan oleh pria berjaket biru gelap itu. Itu adalah belahan jiwaku selama ini.
“Dengan senang hati…” Jawabku sambil memeluk sosok yang sangat kurindukan selama 8 tahun itu.
Pak Rhyno memakaikan cincin itu ke jari manis tangan ku. Aku menatapnya dengan penuh rasa cinta dan rindu yang mendalam.
“Sekarang nggak ada yang bisa memisahkan kita.” Bisiknya sambil mencium dahiku dengan hangat. Aku tersenyum senang. Aku kembali mengingat kalimat terakhir dalam surat Excell yang sempat kubaca sebelum pergi dari pemakaman.

Gue yakin pasti pintu dan cahaya kebahagiaam Lyra akan mnyinari hidup lo suatu saat nanti seperti bintang Sirius di tengah rasi bintang Scorpio yang selalu memancarkan sinar birunya tanpa henti selama ratusan tahun.





TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar