Hai, aku
Aryana Nabilla Indahpermata but just call
me Arya, OK.?! Aku sekarang duduk di kelas 2 SMA Budi Utomo Jakarta. Sebenarnya aku
hanyalah anak biasa jika ayahku bukan seorang pejabat tinggi, karena hal itu
guru-guru di sekolah salalu memperlakukankua dengan special.
Hari ini
ada guru baru yang datang. Banyak yang bilang kalau guru yang satu ini lulusan
dari sarjana di Amerika Latin, tapi menurutku pasti orangnya biasa-biasa aja.
Toh biasanya kan
gitu.
“Woy…
yakin lo ga bakal tertarik sama guru yang satu ini.? Cakep loh… rada mirip gue.
Gue aja ganteng gini apa lagi tu guru.” Excell, musuh abadi sekaligus teman
sebangkuku mulai memanas-manasiku lagi.
Perlu
kuakui prestasinya lebih unggul daripada prestasiku. Tapi cowok yatim piatu
kelahiran Amerika Latin yang wajahnya agak mirip sama Justin Bieber yang punya
nama lengkap Excell Blaze Vanniero Harun ini sering kali bikin aku naik darah.
Biarpun dia menduduki peringkat satu rangking kelas dan urutan pertama dalam
daftar cowok keren di sekolah (Ngalahin kak Richi dan kak Adhi) menurutku itu
hal yang wajar. Secara dia keturunan Amerika Latin, mana mungkin ga pintar.
“Udah
deh. Gue lagi ga mau berantem sama lo. Masih pagi.” Sambarku kesal sekaligus
dongkol.
“Yaah…
Ga bisa diajak bercanda nih… ga seru ah… mending sama Lena deh kalo gitu…” kata
Excell sambil pindah ke tempat Alvin, tepatnya
disebelah Lena.
Bel
tanda berbaris akhirnya berbunyi. Aku dan teman-teman yang lainnya segera
menuju lapangan untuk mengatur barisan. Berita tentang guru baru itu Ternyata
memang benar. Kepala sekolah berdiri disamping seorang laki-laki bertubuh
atletis yang sangat… sebut aja, ganteng.
“Baiklah
anak-anak. Hari ini kita kedatangan guru baru, namanya pak Rhyno Stevanno
Adipurnama Harun. Dia ini lulusan dari Universitas Negeri di Amerika Latin.
Mulai hari ini dia akan menjadi guru dimata pelajaran olahraga.”
WHAT.?!
Guru olahraga.?! Berarti jam pertama nanti dia akan langsung mengejar kami
sekelas.? Yeah…!! Beruntung…!! Tunggu, kok nama belakangnya ‘Harun’ ya, sama
kayak nama belakang Excell . Alah, tapi emang gue pikiran…??? Masa bodo’ mau
sama apa kagak. Iyo to.?!
Bel
tanda barisan dibubarkan membuyarkan khayalanku tentang pelajaran olahraga yang
akan kami lalui nanti. Mungkin pelajaran olahraga yang biasanya melelahkan akan
berlalu tanpa terasa.
Aku dan
Rizka segera mengganti pakaian di toilet. Biasanya kami ngobrol sebentar
sebelum pergi ke lapangan. Tapi entah kenapa aku malah ingin cepat-cepat
kelapangan untuk bertemu dengan pak Rhyno.
Sialnya,
dalam perjalanan ke lapangan aku berpas-pasan dengan Excell yang langsung
menghujaniku dengan sejuta sindiran.
“Gimana.?
Cakep kan
kayak gue.? Elo sih, dibilangin gak percaya. Makanya jadi orang jangan sering
nggak percaya sama perkataan orang lain.” Kata Excell memulai ‘perang’.
“Hah.?!
Yang cakep cuma gurunya. Elo mah ga
ada apa-apanya. Kalau dijadiin kiasan nih, jadi Handsome and The Beast. Si handsomenya Pak Rhyno, si Beast alias si
buruk rupanya elo.!!!! Kalo itu gue 100% setuju.” Tukasku sambil mencubit
pinggang Excell sekuat mungkin biar dia kapok ngerjain aku terus.
“Aw...
sakit nih… aaawww…” Excell menjerit sambil berusaha melepaskan tanganku dari
pinggangnya. Tapi aku malah tambah kuat mencubitnya.
“AAAAWWWWW,…..!!!!!!!!”
Excell berteriak kuat karena aku mencubitnya terlalu kuat.
Aku
berlari agar Excell tidak membalas perbuatanku. Dia mengejarku dari belakang,
saat tangannya menyentuh pundakku aku tergelincir oleh genangan air di tangga.
Saat itu ada pak Rhyno dan pak Ronal (Perwalian kelas kami) yang akan menaiki
tangga.
Pak Rhyno
menahan tubuhku agar tidak jatuh, sedangkan Pak Ronal menatap Excell yang
kelihatan shock. Pak Ronal mengira
dia mendorongku agar jatuh dari tangga karena terakhir dia megang bahuku.
Biarin aja, toh sekali-sekali di hukum guru. Ya kan.?
Pak
Ronal menyeret Excell dengan kasar kedalam kantornya. Aku merasakan akan ada
hal buruk yang akan terjadi. Aku cepat-cepat mengucapkan Terima kasih pada pak
Rhyno dan menyusul pak Ronal dan Excell.
Aku
mengintip dari bawah jendela. Didalam kantor, pak Ronal memarahi Excell
habis-habisan. Aku merasa tidak enak pada Excell. Bagaimanapun juga aku jatuh
karena kecerobohanku sendiri dan bukan karena dia.
Pak
Ronal memang terkenal sadis kalau memberi hukuman. Belum lagi dia juga tidak
menyukai Excell tanpa alasan. Padahal yang sering memberikan penghargaan untuk
kelas kami hanya Excell.
Tiba-tiba
pak Ronal memukul kaki Excell dengan sebatang kayu besar yang aku jamin sekali
pukul langsung terkilir. Excell mundur beberapa langkah kebelakang. Matanya
berair, kelihatan sekali kalau dia hanya sebisa mungkin menahan diri agar tidak
menangis atau mengerang kesakitan, ingin sekali aku berteriak pada Pak Ronal
bahwa kaki yang dipukulnya adalah kaki seorang pemain basket professional yang
sudah membawa nama sekolah kami sampai ke Korea, Jepang, dan China.
Excell
keluar dari kantor Pak Ronal, aku segera bersembunyi agar tidak ketahuan. Aku
memperhatikannya dari kejauhan dengan rasa bersalah, apalagi sekarang cara
berjalannya terlihat agak sedikit pincang karena hantaman kayu yang diberikan
oleh Pak Ronal tadi.
Aku
mengikutinya sampai ke UKS sekolah. Didalam dia memerban kakinya yang dipukul
oleh pak Ronal dengan perban yang sudah tersedia. Aku melihat setitik air mata
meleh dari sudut matanya. Aku tidak percaya, selama aku mengenalnya aku belum
pernah melihatnya menangis.
Aku
kembali ke lapangan dengan lesu. Mungkin pelajaran olahraga tidak akan seru
jika Excell tidak ikut. Aku berharap agar dia bisa ikut olahraga bersama.
Beberapa
menit kemudian Excell datang dengan langkah yang masih terlihat pincang. Di
kaki sebelah kanannya terlihat perban putih yang membelitnya. Dia sempat
melihatku, tapi dia cepat-cepat memalingkan wajahnya. Aku takut dia marah
padaku, selama ini dialah yang mengajariku banyak hal yang tidak ku mengerti.
Kami
mulai berolahraga dengan materi pertengahan yaitu tentang renang. Kami sekelas
diajak oleh Pak Rhyno ke kolam renang yang dekat dari sekolah. Karena sudah di
pesan oleh pak Ronal saat Minggu lalu, jadi kami sudah mempersiapkan semuanya.
Saat
akan menyebrangi jalan aku melirik kearah Excell, tidak ada yang membantunya
saat akan menyebrangi jalan. Aku ingin membantunya, tapi aku takut. Sebagai
gantinya aku menyuruh Dion untuk membantunya.
Sesampainya
di kolam kami segera menceburkan diri ke dalam kolam tanpa menghiraukan
perintah Pak Rhyno. Pipiku merona merah begitu melihat bodi six-packs-nya Pak Rhyno.
“Woy,
Ya.?! Nghayalin apa lu…??? Kok keliatannya asik banget deh…” Sisiel menepuk
pundakku dari belakang. “Ngomong-ngomong, kok Kayaknya lo sama si Excell dari
awal pelajaran sampe s’karang lo berdua diem-dieman. Pundung ya.?” Tanya Sisiel ingin tahu.
“Nggak.
Cuma…” aku menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Sisiel. Mungkin dia bisa
sedikit membantuku.
“Ooohhhh….
Gitu…t’rus, kenapa lo ga minta maaf langsung aja ma dia.? Yaaah, dia kan orangnya paling gampang
maafin orang.” Ujar Sisiel.
“Iya,
tapi gue ngerasa ga enak aja. Secara gara-gara gue dia kena pukul pake kayu
besar sama Pak Ronal. Dan sekarang tuh liat, kakinya jadi terkilir. Padahal itu
kaki punya pemain basket professional
yang udah ngebawa nama sekolah kita ke berbagai daerah.”
“kalo
gitu, gue bisa bantu biar lo cepet baikan ma Excell.” Kata Sisiel dengan
senyumnya yang sangat khas.
“Yang
bener nih…??? Aduuh… Siel, thank’s banget ya… lo emang sahabat gue yang paling
bae…” aku memeluk Sisiel.
“Iya,
iya… skarang gue mau bicara sama Excell dulu.” Kata Sisiel sambil melepas
rangkulan tanganku di pundaknya.
aku
berjalan diseputar kolam renang untuk melihat-lihat keadaan. Tapi karena
kecerobohanku aku terpeleset oleh air yang ada di pinggiran kolam. Untung ada
pak Rhyno yang dengan sigap menahanku agar tidak jatuh ke kolam.
“Lain
kali hati-hati. Ini sudah yang kedua kalinya.” Kata Pak Rhyno sambil tersenyum
ramah. OMG gantengnya itu loooohhhhh,…..
“I, iya
pak. Makasih.” Jawabku tanpa beralih dari wajahnya yang bagaikan dewa dari
kahyangan.
“Ehm.!”
Dehaman
yang khas dan familiar hinggap sesaat ditelingaku. Itu… Excell…!!!
“ada
yang lagi mesra-mesraan sama guru nih…” Katanya sambil menahan tawa. Kelihatan
sekali kalau dia punya rencana gila.
“WOOOOOYYYY….!!!!!!
ADA PEMANDANGAN
LANGKA NIIIHH…!!!! RUGI KALAU GA LIAT….!!! BURUAN….!!!!!” Tanpa kusadari dia
berteriak kencang.
“Ooohh….!!!
Mau balas dendam ya…???!!! Jangan pake cara gitu dong…. Kalo berani, sini,
adepin gue pake cara jantan.” Tukasku sambil menarik kerah bajunya yang sempat
kuraih sebelum dia kabur lagi.
“yah,
bisa dibilang gitu. Gue mau balas dendam karena gue dapet hukuman yang ga tepat
dari Mr. Gondoruwo.” Jawab Excell tak mau kalah.
“Excell.”
Pak rhino memandang Excell dengan tajam. Aku tau arti dari tatapan itu adalah
‘jangan mcam-macam!’. Soalnya aku sering menggunakannya untuk mengancam Excell.
“Hehe…
Ampun pak…”
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
Ting….tong….
Seseorang
memencet bel rumahku. Aku segera membuka pintu agar orang itu bisa cepat-cepat
pergi dari sini SECEPATNYA.!
Aku
sempat terpaku sesaat saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahku.
Pak Rhyno…!!!
“Maaf,
pak guru mau ngapain ya.?” Tanyaku dengan hati-hati karena sekarang aku sedang
sendirian di rumah.
“Cuma
mau minta tolong kok.” Jawab pak Rhyno santai.
“Lho.?
Minta tolong apaan ya pak.?” Tanyaku lagi.
“Kamu
bisa nggak, temenin pak guru jalan-jalan bentar.?” Kata pak guru santai.
“Soalnya, Cuma kamu yang akrab sama pak guru. Yang lainnya belum terlalu
akrab.” Ujar pak guru agar aku tidak heran.
“Ooh…
boleh kok pak. Tapi, saya ganti baju dulu ya. Pak guru masuk aja dulu.” Aku
mempersilahkan pah Rhyno masuk ke dalam rumah lalu segera masuk kedalam kamar.
“Yeeeeesssss….!!!!
Yuhuuuuuu….!!! Akhiiirnyaaaa…. Kesampean juga….!!! Yuuhuuuu….. Ngedate sama pak rhyno” Aku bersorak penuh
kemenangan begitu aku mengunci pintu kamar.
Aku
segera membongkar tumpukan baju-baju milikku diatas tempat tidur. Aku ingin
terlihat perfect dimata Pak Rhyno,
makanya aku mengenakan pakaian terbaikku.
Mini dress warna putih yang kupakai saat ulang
tahun Kak Richi beberapa bulan yang lalu ini mendapat nilai perfect dari semua teman-temanku, Bahkan
kak Richi dan Excell pun beranggapan sama (‘kayak tuan putri di tangah pesta’).
Setelah
selesai berdandan, aku segera keluar dari kamar. Pak Rhyno memandangiku dari
ujung kepala hingga ujung kaki.
“Udah
siap.? Ayo.” Ajak pak Rhyno.
Aku
mengangguk lalu mengikutinya keluar rumah. Di depan rumah terparkir motor
birunya yang mengkilat seperti baru.
Aku
menyambar helm biruku yang terletak di rak di teras rumah lalu segera duduk di
belakang pak Rhyno.
Pak
Rhyno membawa motor ke restoran yang pernah aku datangi bersama kak Richi dan
kak Adhi beberapa Minggu yang lalu.
Aku dan
pak Rhyno masuk ke dalam restoran yang mewah itu. Banyak orang yang sedang
makan bergumam iri sehingga aku merasa tidak enak. Setelah itu kami segera
duduk ditempat yang sudah dipesan oleh Pak Rhyno.
Aku
memesan steak dan jus alpukat, makan yang sering ditraktir Excell saat aku
sedang sedih atau bad mood, Sementara
pak Rhyno memesan bistik ayam dan jus jeruk.
Saat
tengah makan, seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan mendekati meja tempat
kami makan.
“Rhyno!
Ngapain kamu di sini.? Siapa Cewek ini.?” Tanya gadis itu tanpa permisi lebih
dulu.
“Yang
siapa itu elu.! Kenapa lo datang dan
langsung marah-marah?” Tukasku karena jengkel karena dia tidak sopan.
“Oh. Mau
tanya gue siapa.? Gue pacar Rhyno.”
Jawab gadis itu sambil menekankan nada pada kata ‘pacar’. “Yang siapa tuh
elo.!” Kata gadis itu sambil mendorongku dengan kuat.
“Elsa,
udah.! Ini ga seperti yang kamu pikir. Aku dan Arya Cuma kebetulan aja ketemu
di sini.” Kata Pak Rhyno berbohong. Aku tau dia berbohong demi kebaikanku.
“Ohh….
Kebetulan, atau memang sengaja ketemu.?!” Tanya gadis itu tidak percaya.
“Aku dan
Arya nggak sengaja ketemu.” Kata pak Rhyno tegas.
“Aku
nggak percaya.” Tukas gadis itu. “Dan kamu Cewek ga tau diri, jangan berani lo
deketin rhino sesentipun.!”
“Memangnya
kenapa kalau gue deketin Pak Rhyno.?! Lo Cuma pacarnya doang dan bukan
mamanya.” Kataku kesal.
Dengan
geram, gadis itu melemparkan gelas yang berisi jus jeruk milik pak Rhyno yang
terletak diatas meja kearahku. Aku menutupi mata siap menghadapi semuanya.
Bunyi
gelas pecah terdengar jelas di telingaku. Tapi bukan di tubuhku melainkan
seseorang yang ada di hadapanku yang melindungiku dari serangan gadis tadi.
Justin Bieber.! Bukan, itu Excell. Bahu berdarah kena pecahan gelas.
“Cih,
beraninya sama anak sekolahan.!” Geram Excell dengan nada yang agak menantang.
“Ni
siapa lagi.?!” Geram gadis itu.
“ELSA
CUKUP….!!!!” Tiba-tiba pak Rhyno berteriak marah entah karena kenapa. Mungkin
dia marah karena pacarnya itu sudah membuat kami nggak nyaman.
“Ooh,
jadi kamu lebih ngebelain Cewek ga tau diri ini daripada aku, pacar kamu
gitu.?”
“Bukan
itu masalahnya. Mereka ini anak didik aku.!” Kata pak Rhyno masih marah.
“Excell, Arya, ayo ke rumah sakit.” Ajak pak Rhyno.
Aku dan
Excell mengikuti pak Rhyno pergi ke rumah sakit yang ada di depan restoran.
Begitu sampai di sana
pak Rhyno segera mengantar Excell ke ruang periksa lalu menemaniku di ruang
tunggu.
Selama
menunggu kami hanya saling diam. Tak ada yang mau bicara walaupun hanya
mengatakan ‘A’.
Beberapa
menit kemudian Excell kembali sambil memegangi bahunya. Dari raut wajahnya
kelihatan sekali kalau dia meringis di dalam ruang periksa. Lalu pak Rhyno
segera membayar biaya periksa. Aku bingung, kenapa pak Rhyno perhatian banget
sama Excel.? Tapi biarin aja, salah-salah Excell memang anak special di sekolah. Jadi wajar kalau guru-guru pada
panik kalau dia kenapa-napa. Secara Cuma Excell yang bisa pulang dari olimpiade
matematika dengan membawa medali emas atau trofi. Jadi jangan heran.
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
Aku
membanting diri di atas spring bed ku
yang ber sprei biru kehitaman, warna favoritku. Aku memandang sekaliling kamar.
Dinding yang banyak ku pasangi poster Irfan Bachdim. Tiba-tiba handphoneku
berbunyi.
“Jgn lpa kerjain pr Matematika lu.! Bsok dilarang nyontek pr
gw.! Ok.?!”
Aku
meremas jariku dengan kesal. Tu anak mentang mentang pintar hobinya berlagak
melulu…!!!
“Mr. Excell yg trhormt, sorry
aj…!! Pr gw udah slesai dri kmaren2. lu jgn bsar kpala dlu...!!!”
“Ooh. Udh slesai y... syukur aj
klo gtu. Oh y, bsok blg k p’Ronal gw mnta izin, ad urusn dkit.”
“Urusan pa’an.?”
“Ada deeh.. privat hehehe...”
“Ksih tau dlu bru gw mw blg klo
lo ad urusan. Klo ga, y udh..”
“Ngancam y.? bkn cma lo doang kn
yg bsa gw mntain tlng. Ad om gw jga.”
“Oh, gw bru tau
klo lo pnya om. Siapa?”
“Lho.? Blom gw ksih tau ya,. Klo
gtu nnti gw ksih tau langsung d skolh deh.”
“Yah, bkin
pnasarn aj..”
“Udh dlu y,. gw mau istirahat.”
Aku
menghadapi ke langit-langit kamarku, aku penasaran dengan apa yang di beritahu
oleh Excell tadi. Urusan sepenting apa sampai dia bela-belain nggak masuk
sekolah.? Aah, udah lah, yang penting nanti juga di kasih tau.
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
Pagi
hari yang cerah scerah hatiku yang sedangsangat cerah tanpa setitik awan yang
menutupi hatiku ini. Karena 2 hal yaitu : 1. ga ada excell di sekolah. 2. ada
pelajaran tambahan olahraga nanti pagi. Yiipi, gimana ga senang coba..??
Sesampainya
di sekolah aku tidak pernah berhenti tersenyum. Aku sangat senang, dan aku
berharap ini terjadi selamanya. Dimana hari-hariku terisi bersama dengan pak
Rhyno dan tentu saja tanpa Excell.
“Eh guys, denger-denger nih… katanya Excell,
dia tuh ngidap tumor otak stadium 4 loh… dan hari ini kata dia ga masuk karena
Katanya dia pingsan dan belum sadar sampai sekarang.!” Kata Shella, si ratu
gossip.
“Alaah… ratu
gossip begitu di denger, ga usah di pikirin…” Timpalku cuek.
“Oh
ya.?! Kita liat aja siapa yang bakal datang nganterin surat izinnya Excell.” Tantang Shella.
“Ogah
ah.! Jangan pikir karna gue sering berantem sama dia gue mau ngejelek-jelekin
dia ya.! Gue ga Terima kalo lo jelek-jelekin dia lagi.!” Ancamku agar Shella
mau tutup mulut.
Aku
menahan diri agar tidak menyumpal mulut Shella dengan tanah dari pot bunga
didepan kelas. Tapi bukan itu yang aku pikirkan, yang kupikirkan adalah
kata-kata yang dikatakan oleh Shella barusan. Aku yakin pasti itu bukan kalimat
biasa, itu pasti ada artinya. Dan aku tau itu.!
“Permisi.
Ini surat izin
Excell.” Terdengar suara pak Rhyno dari depan pintu yang langsung mengalihkan
perhatianku. “Aryana ada.?” Tanyanya yang tidak tau kalau aku ada di sini dari
tadi.
Aku
mengangkat tanganku agar pak Rhyno bisa melihatku. Lalu dia mendekatiku lalu
membisikkan sesuatu.
“Saat
pulang nanti, kamu jangan pulang dulu ya. Ada
yang mau pak Guru kasih tau.” Bisik pak Guru. Aku mengangguk mengiyakan.
Sepulangnya
dari sekolah aku menunggu pak Rhyno didepan gerbang sekolah. Beberapa saat
kemudian pak Rhyno datang sambil menyodorkan helmnya kepadaku. Aku segera
memakainya dan naik ke belakang pak Rhyno.
Pak
Rhyno membawaku ke rumah sakit. Aku bertanya-tanya apa yang ingin diberitahu
oleh pak Rhyno padaku. Tapi aku menahan diri.
Pak
Rhyno mengajakku memasuki kamar nomor 98. aku sempat membaca nama pasien yang
tertempel di pintu kamar. Excell Blaze Vanniero Harun. Ini lebih membuatku
bingung. Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Shella tadi benar.? Aku tidak
tahu, tapi firasatku mengatakan kalau itu ada artinya.
Aku
memasuki kamar yang serba putih. Aku langsung melirik kearah tempat tidur.
Seorang laki-laki yang begitu kukenali terbaring disana, dengan wajah yang
penuh kedamaian dan ketenangan.
“Maaf
kalau kamu terkejut, tapi, jangan ceritakan ini pada siapa-siapa.” Kata Pak
Rhyno tiba-tiba.
“Maksud
pak guru…??”
“Sebenarnya…”
Pak Rhyno menarik nafas panjang. “Excell mengidap tumor otak stadium 4.”
Ungkapnya berat. “Selama ini dia minta agar pak guru merahasiakannya dari kamu.
Tapi pak guru tidak tahan kalau kamu ga tau apa-apa. Jadi, jangan kasih tau
sama siapa-siapa.” Kata pak guru sambil menatap mataku dalam-dalam.
Gelas
yang kupegang hampir terlepas dari tanganku dan hampir terlepas dari
genggamanku. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak Rhyno
barusan. Tidak mungkin Excell mengidap tumor otak. Selama ini dia salalu
terlihat ceria seperti remaja pada umumnya.
“dokter
bilang, sudah tidak ada harapan lagi. Kemungkinan presentase keberhasilan
operasi hanya 19-28%. Jadi, waktunya hanya tinggal menghitung bulan saja.” Kata
pak Guru. “maaf juga kalau udah ngebohongin kamu, sebenarnya pak guru itu omnya
Excell yang ngerawat Excell selama ini.” Sambung pak Rhyno.
“Ga
apa-apa kok pak. Saya nggak marah kok. Saya tau kalau pak guru bohong demi
kebaikan saya dan Excell. Walaupun agak kecewa karena pak guru nggak cerita
dari awal, saya ngerti kok. Saya juga nggak percaya kalau Excell ngidap tumor
otak sampai stadium 4. menurut saya, waktunya terlalu cepat.” Aku berusaha
memahami keadaan.
Pak
rhyno mengangkat wajahnya dan menatapku. Lalu tersenyum.
“7 tahun
yang lalu, tepatnya saat tumor mulai tumbuh di otaknya, Excell sempat mengalami
gangguan jiwa yang membuatnya putus sekolah selama satu tahun.”
“Gangguan
jiwa.?” Tanyaku.
“ya,
tepatnya saat adik sepupu yang dia cintai, Sophia merenggang nyawa saat jatuh
dari tangga.” Jawab pak Rhyno.
“Saat
itu, dia terus menyalahkan dirinya. Dia bilang seandainya dia mencegah Sophia
ikut bersama teman-temannya ke vila
pasti hal itu tidak akan terjadi berulang-ulang kali. Karena tidak tahan dengan
tingkah Excell yang selalu menyalahkan diri, ayah angkatnya menganggapnya gila
dan mengirimnya ke RSJ sampai pak guru mengetahuinya setahun kemudian. Karena
merasa bertanggung jawab, pak guru mengambil hak asuh Excell atas nama ayah
kandungnya. Beberapa bulan setelahnya, Excell kembali seperti biasanya walaupun
harus menjerit kesakitan tiap malam karena tumor di otaknya. Setiap hari dia
terus menggambar sosok gadis yang sama tiap hari. Dia pernah bilang kalau nama
gadis itu adalah Lyra yang merupakan pengganti sosok Sophia.”
Aku
tidak sadar kalau aku menitikkan air mata saat mendengar cerita dari pak Rhyno.
Ternyata, sosok Excell yang usil dan nakal bagiku Ternyata adalah orang yang
penuh perjuangan. Aku bisa membayangkan bagaimana Excell menjerit tiap malam di
kamarnya. Yang tidak bisa kubayangkan adalah bagaimana saat Excell dianggap
gila dan dikirim ke RSJ.
“Beberapa
hari ini dia selalu bilang kalau dia siap untuk di operasi walau hasilnya
nihil. Dia bilang, hanya ada dua pilihan, tetap diam dan menunggu sampai tumor
di otaknya membesar atau di operasi yang bisa membuatnya menyusul Sophia.”
Sambung pak Rhyno.
“Pak
Guru yang sabar ya,. Saya yakin kalau Excell pasti bisa sembuh.” Entah apa yang
membuatku berani melakukan hal ini, tapi aku memeluk pak Rhyno tanpa takut
ataupun malu.
Aku
mengira kalau pak Rhyno akan marah, tapi Ternyata dia malah membalas pelukanku
dengan hangat.
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
Sudah
sebulan Excell tidak masuk sekolah, dan aku akan pindah dari Jakarta ke Amerika jam 8 besok malam. Ada yang bilang kalau dia
berhenti dari sekolah tapi aku tidak percaya.
Tiba-tiba
kak Adhi menghadangku.
“Arya,
bisa bicara bentar.?” Tanya kak Adhi.
“Boleh
kok, kak. Tapi mau bicara apa ya.?” Jawabku gugup. Tanpa kusadari kak Adhi
menarik tanganku ke belakang sekolah yang sepi. Jantungku berdegup kencang,
begini-begini kak Adhi belum pernah bersikap seperti ini padaku.
“Arya,”
bisik kak Adhi sambil mendekatkan wajahnya kewajahku. Aku memundurkan kepalaku
agar masih dalam jarak yang aman. “Jadilah pacarku.” Kata kak Adhi. Semula aku
hanya menganggapnya bercanda, tapi melihat raut wajahnya yang menunjukkan
keseriusan aku tambah gugup.
“Ma,
maaf kak. bukannya Arya ga suka sama kakak. Tapi kan, bentar lagi Arya udah mau pindah ke
Amerika, jadi…” Aku tidak melanjutkan kalimatku.
“Ga
bisa.! Arya Cuma milik gue.!” Seruan kak Richi terdengar dari belakang kak
Adhi. “Ga ada yang bisa ngerebut Arya dari gue. Termasuk lo.!” Kata kak Richi
lantang.
“Emang
lo siapanya Arya.?!” Bentak kak Adhi sambil mendorong bahu kak Richi dengan
kasar.
“Kalo
gue pacarnya, ada masalah.?” Jawab kak Richi santai.
“heh.!
Gue nanyain yang serius. Jadi lo juga harus ngejawab yang bener.,! gue paling
anti sama orang ga jelas kayak lo.!” Tukas kak Adhi tegas.
“Iya,
gue serius kalau Arya…”
“STOP…!!!!!!!!!”
aku berteriak agar kak richi dan kak Adhi berhenti bedebat. “Udah deh, kak
Richi sama kak Adhi gak perlu berantem gara-gara pengen jadi pacarnya Arya.
Semuanya ga ada gunanya. Beberapa Minggu lagi Arya mau pindah ke Amerika, jadi
ga ada gunanya kak Richi sama Kak Adhi berantem soal Arya.!!!” Tukasku sambil
menahan agar airmata tidak meleleh.
“Arya…”
“Nggak…
Arya nggak mau denger apapun lagi…!!!!” Kataku sambil berlari ke dalam kelas.
Aku
menyeka airmata yang membendung agar tidak jatuh saat bertemu seseorang.
Tiba-tiba pak Rhyno datang.
“Arya,
hari ini Excell operasi.!” Lapor pak Rhyno seolah aku ini komandannya. Aku
sedikit kaget mendengar perkataan pak Rhyno barusan. “10 menit lagi di mulai.!”
Sambungnya.
“10
menit lagi.? Ya udah, kalo gitu, kita kesana aja sekarang.” Ujarku spontan.
“Saya bisa minta izin kok.” Sambungku.
Aku dan
pak Rhyno segera pergi ke rumah sakit dengan menaiki motor milik pak Rhyno.
Setibanya
di sana kami
segera menuju ruang operasi tepat saat operasi di mulai. Selama operasi
berjalan, tak henti-hentinya aku berdo’a agar operasinya lancar. Selama itu
pula pak Rhyno terus menggenggam tanganku dengan erat.
3 jam
kemudian dokter keluar dengan wajah penuh keringat. Aku dan pak rhyno segera
mendekatinya.
“Se,
selamat… operasinya berhasil.” Kata dokter. Tapi aku merasa ada yang aneh.
“Maaf
dok.? Apa barusan.?” Tanyaku.
“Maaf.
Kami hanya bisa berusaha.”
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
Aku
terus menangis di sekitar pusara putih sejak sejam yang lalu. Pak rhyno terus
mengiburku.
Excell Blaze V. Harun
3 November 1994 – 28 desember 2010
“Sudahlah,
relakan saja dia pergi. Mungkin ini memang sudah di tentukan oleh Tuhan.
Do’akan saja agar dia bisa mendapat tempat yang layak.” Bisik pak Rhyno mencoba
menghiburku.
“Tapi
ini ga adil…” Jawabku sambil tetap menangis tersedu-sedu.
“Ini ada
surat dari
Excell buat kamu. Dia bilang kalau seandainya operasinya gagal, kamu harus
segera membaca ini.” Pak Rhyno menyerahkan secarik kertas kepadaku
Untuk Arya…
Maaf kalau udah bikin lo nangis. Tapi sebelum lo baca lebih lanjut
lagi, jangan menangis.
Maaf kalau selama ini gue udah bohongin lo. Gue tau kalau pak Rhyno
udah cerita semuanya ke lo. Tapi satu yang perlu lo ketahui, biarpun sosok
nyata gue gak ada di sisi lo, tapi gue tetap danselamanya ada di sisi lo.
Sebenarnya gue ga suka sama diri gue karena sering bikin lo kesel dan
ngecap gue sebagai musuh abadi lo. Tapi itu gue lakuin karena Terpaksa.
Gue yakin lo udah denger tentang Sophia dan Lyra dari pak Rhyno.
Karena itu gue Terpaksa bikin lo benci sama gue. Wajah lo tuh mirip, mirip
banget sama Sophia alias Lyra, saat itu ingatan tentang Sophia muncul dan aku
nggak pengen itu terjadi, jadi aku bikin lo benci sama gue sampe mendarah
daging.
Maaf kalau selama ini aku udah bikin banyak kesalahan ama lo. Tapi
satu yang mau gue kasih tau. Jangan putus asa kalo lo memang ingin melakukan
sesuatu karena gue tetap ada di samping lo sampai kapanpun.
Excell
Aku
menangis lebih keras setelah membaca surat
dari Excell itu. Bodoh.! Kenapa lo ga
bilang langsung aja ma gue.?! Padahal gue pengen banget sahabatan ama lo,
bukannya musuhan. Batinku dalam hati.
Beberapa
menit kemudian mobil jemputanku datang. Hari ini aku akan pergi ke Amerika.
Sebelum pergi , Pak Rhyno menahanku sebentar.
“Arya,
Pak Guru tau kalau kamu pasti kaget. Tapi Pak Guru cinta sama kamu jadi…” Kata
pak Guru. “Jadi jadilah pacar pak guru.” Sambungnya mantap.
Aku
hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak Rhyno barusan. “Dengan
senang hati.” Jawabku sambil memeluknya. Setelah itu aku masuk ke dalam mobil
jemputanku dan pergi ke airpot. Handphoneku berbunyi.
“I love you, my princess.”
Aku
tersenyum membaca SMS dari pak Rhyno.
“Love you too, my price.”
Kami
sampai di bandara Soekarno-Hatta, lalu segera menaiki pesawat yang berangkat ke
Amerika. Dengan hati berbunga-bunga, aku mengucapkan selamat tinggal pada tanah
kelahiranku itu.
♥¤═══¤۩۞۩ஜஜ۩۞۩¤═══¤♥
8tahun
kemudian,di Amerika...
Aku
berjalan di pertokoan untuk sekedar menyegarkan mata karena tugas kuliah
membuatku tudak keluar kamar selama seminggu.
“Aryana
Nabilla.” Suara seorang pria yang sangat kukenali menyebut namaku. “Hiduplah
bersamaku.”
Aku
berbalik untuk memastikan kalau aku tidak salah orang, saat itu juga kotak
cincin berlapis beludru merah di sodorkan oleh pria berjaket biru gelap itu.
Itu adalah belahan jiwaku selama ini.
“Dengan
senang hati…” Jawabku sambil memeluk sosok yang sangat kurindukan selama 8
tahun itu.
Pak
Rhyno memakaikan cincin itu ke jari manis tangan ku. Aku menatapnya dengan
penuh rasa cinta dan rindu yang mendalam.
“Sekarang
nggak ada yang bisa memisahkan kita.” Bisiknya sambil mencium dahiku dengan
hangat. Aku tersenyum senang. Aku kembali mengingat kalimat terakhir dalam surat Excell yang sempat
kubaca sebelum pergi dari pemakaman.
Gue yakin pasti pintu dan cahaya kebahagiaam Lyra akan mnyinari hidup
lo suatu saat nanti seperti bintang Sirius di tengah rasi bintang Scorpio yang selalu
memancarkan sinar birunya tanpa henti selama ratusan tahun.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar